[Review] Miyazaki Ichigo - Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo

Judul: Akatsuki: Semburat Cinta di Langit Tokyo
Pengarang: Miyazaki Ichigo
Penerbit: Qanita
Tahun: 2012
Tebal buku: 321 hlm
My rating: 1/5 stars




Sinopsis:

Semburat cahaya terang di kegelapan langit timur membungkus diriku dengan daya pesona. Itu benar-benar pemandangan yang sempurna, meskipun aku tahu tidak ada yang sempurna di dunia ini. Aku tidak tahu mesti menyebutnya bagaimana. Ini sungguh mengagumkan!

Meskipun yatim piatu sejak kecil, Mayumi tetap bahagia. Dia menjadi anak angkat pasangan Nakano yang menyayanginya seperti mereka menyayangi, Shun, putra kandung mereka. Namun, kebahagiaan Mayumi mulai terkoyak saat Shun yang dianggapnya seperti kakak sendiri mencoba memaksakan cinta.

Pelarian Mayumi hanyalah saat fajar. Dia selalu menunggu-nunggu semburat cahaya kemerahan muncul di timur. Cahaya misterius. cahaya yang menjadi tumpahan kesepian dan kegundahannya.

Mayumi akhirnya memilih meninggalkan keluarga Nakado, menempuh hidup sendiri. Untunglah, dia berjumpa sahabat-sahabat yang selalu membantu dan menemaninya. Henry yang ceria, yang selalu membuatnya tertawa saat keadaan sulit, dan Satoshi, cowok pendiam dan misterius, tapi selalu siap menolong saat Mayumi dalam kesulitan.

Kemanakah hati Mayumi harus berlabuh?


Review:

Tarik napas. Buang napas. Tenangkan diri. Oke. INI BUKU APA SIH??!! Oops... Sepertinya memang tidak bisa membahas buku ini tanpa penggunaan capslock. Sebetulnya males banget review buku ini. Tapi saya perlu melampiaskan rasa kesal saya pada buku ini, agar tidak ada lagi buku yang jadi tumbal atas kekesalan saya. Mari saya jelaskan alasannya...

Cerita dimulai dengan kisah seorang bayi yang menangis namun tenang kembali setelah dinyanyikan potongan lagu anime Naruto oleh ayahnya. Ibunya meninggal saat melahirkan, dan disusul oleh ayahnya yang meninggal 7 bulan kemudian. Kemudian bayi yatim piatu tersebut, Mayumi, diangkat anak oleh keluarga Nakano yang telah memiliki 1 anak laki-laki, Shun.

Cerita berlanjut 17 tahun kemudian, saat kepulangan Kak Shun dari Inggris setelah belajar kedokteran selama 6 tahun. Di tengah perasaannya yang aneh karena kejanggalan sikap kakaknya itu, ia masih harus menghadapi festival sekolah dan juga Satoshi, teman sekelasnya yang pendiam dan misterius. Ternyata Satoshi adalah orang Islam, sesuatu yang asing bagi Mayumi. Dan setelah berbagai masalah menimpa dirinya, ia mulai merasa bahwa kehidupannya terasa hampa. Pada saat yang bersamaan pula, ketertarikannya pada agama Islam mulai menguat.

Buku ini mendapatkan rating di Goodreads mencapai 4.26, dengan banyaknya review yang menyatakan bahwa buku ini keren, menarik, dll. Ini sebetulnya masalah selera ya, meskipun saya tidak bisa menyalahkan mereka juga. Secara teori, seharusnya ini menjadi buku yang saya suka. Seharusnya. Tapi kenyataannya, buku ini sangat gagal mengeksekusi ide cerita yang menurut saya sudah oke itu. 

Pertama, gaya penulisannya yang mengalir tanpa dipenuhi berbagai deskripsi yang tidak perlu. Ini udah oke menurut saya, tapi tidak konsisten karena pada bagian pertengahan hingga akhir cerita ada banyak sekali tambahan informasi tentang bangunan di Jepang. Jadi merasa seperti buku informasi pariwisata Jepang dan bukannya buku dengan latar belakang Jepang. Bingung ya? Jadi gini...kalau misalkan buku informasi pariwisata Jepang pasti akan membeberkan segala bangunan dan sejarah yang ada di Jepang, dong? Nah penulisannya juga pasti kebanyakan monoton tapi informatif. Berbeda jauh apabila suatu buku berlatar belakang negara Jepang, dimana ia menceritakan sejarah suatu tempat tapi masih ada hubungannya dengan cerita pada buku. Nah di buku ini terkadang ada deskripsi suatu tempat yang menurut saya tidak ada hubungannya dengan cerita atau dipaksakan masuk dalam cerita (hlm. 255, 259), makanya saya katakan seperti buku informasi pariwisata.

Kedua, ada hal yang aneh terkait alur buku ini:
"Hei..."  
Pemuda-pemuda pengganggu! Aku dan Rin melewati mereka tanpa menanggapi, tapi mereka melampaui batas. Tangan-tangan jahil mereka mulai beraksi. Awalnya, aku hanya menampik tangan mereka dengan tegas.
PSIUUU! DOR! DOR! DOR!  
Pesta kembang api dimulai. Beraneka warna yang gemerlapan menghiasi langit malam. Indah sekali. Bayangannya terpantul di permukaan danau yang tampak hitam. Wajahku menengadah ke langit yang berhias warna-warni kembang api. (hlm. 74)
Saya merasa aneh sekali karena ada kata 'awalnya' yang berarti akan ada 'selanjutnya', tapi justru hanya ada deskripsi tentang kembang api. So weird...

Terakhir, poin minus terbesar dari buku ini bagi saya adalah tokoh utamanya. Sangat tidak konsisten. Ini buktinya:
...Tapi, aku tidak tomboi. Sederhananya, aku tidak feminin, tapi juga tidak maskulin. Aku tetap menjaga kodratku sebagai perempuan. Tapi, aku tidak mau menjadi lemah, harus kuat. (hlm. 117)
Tiba-tiba saja, salah satu di antara mereka mengeluarkan senjata tajam. Pisau! Rin berkeringat dingin. Para lelaki itu membentuk lingkaran mengepung kami. Jumlahnya sekitar sebelas orang. Aku dan Kozue segera beraksi melawan mereka dengan mengeluarkan jurus-jurus karate kami. (hlm. 156)
Dengan dibantu Kak Ayame, aku minum sedikit, sekadar membasahi mulut. Aku memejamkan mata yang memanas. Air mataku merembes. Pasti ini pengaruh demam yang menyerangku. (hlm. 210)
Diam-diam, aku menangis lagi. Butiran-butiran bening meluncur deras menuruni pipiku. Dengan tubuh berguncang, aku menangkupkan wajah di atas lutut dan kukeluarkan tangisku sampai lega. (hlm. 218)
Bagian saat Mayumi menangis itu SANGAT banyak. Saking isengnya saya hitung di bab Lahir Kembali ada 6 kali ia menangis. Bayangkan jumlah total ia menangis dalam 1 buku. Bener-bener buku yang menguras energi, dan bukan dengan cara yang positif. Berkali-kali saya harus memaksakan diri saya untuk menyelesaikan buku ini. Dan girang bukan main saat saya selesai membacanya. Seburuk itulah pandangan saya terhadap buku ini.

Tapi buku dengan jumlah 391 halaman ini bukan tanpa nilai positif. Kalau bagian aneh tentang deskripsi tempat dianggap lalu, buku ini memaparkan kehidupan di negara Jepang dengan cukup baik, termasuk perkembangan agama Islam disana. Yang saya sukai adalah penggunaan huruf kanji dan hiragana pada judul buku, membuat saya bisa mengingat kembali pelajaran hiragana sekian tahun yang lalu. Tapi nilai positif ini pun dirusak dengan banyaknya lirik-lirik lagu anime Jepang yang bertebaran dalam buku tapi terkesan dipaksakan. Contohnya pada bagian prolog saat ayahnya mendendangkan lagu anime Naruto. Saya tekankan bagian ini karena SEMUA lagu yang liriknya ada dalam buku berasal dari anime. Sebagai penyuka beberapa anime, saya saja masih melek lagu-lagu lain diluar soundtrack anime. Angkat tangan deh saya untuk hal satu ini. 

Dari segi konflik, saya cukup suka karena rumit. Apalagi adanya perasaan suka Kak Shun ke Mayumi, yang kategorinya cinta terlarang. Dan juga ada begitu banyak tokoh dalam buku ini sampai saya bingung sendiri. Bahkan sampai ada karakter yang saya kira laki-laki tapi ternyata perempuan, saking banyaknya tokoh pendukung dalam cerita. But that's okay, karena semakin rumit justru saya semakin suka *I'm a masochist, I know*.

Ini mungkin review terpanjang yang saya lakukan selama kurang dari 2 bulan saya membuat blog ini. Melelahkan, tapi akhirnya saya bisa melampiaskan segala kekesalan saya terhadap buku ini. Dan ini penting dilakukan karena ada 1 buku yang saya baca tepat setelah buku ini dan saya jadi tidak menyukai buku tersebut karena tokoh utamanya menangis. Buku ini sukses saya nobatkan sebagai buku yang membuat saya jadi malas membaca buku lain karena tidak mau mereka jadi tumbal kekesalan saya. Jadi...bye bye, buku Akatsuki. Saya jamin sebelum akhir tahun akan menghilang dari rak buku saya. 

Comments

  1. Wkwk aku pahan perasaan mbaa.. tapi mbaa harus baca edisi pertamanya yg cover nya cewek jepang. Itu alurnya dari awal sampai akhir keren banget. Yang terbitan mizan. Karena yang itu belum diubah ubah, untuk yang terbitan qanita ini memang mrka akui ada beberapa tambahan dan perubahan yg mnrt saya bakalan bikin ga seseru terbitan pertama

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Share the Love 2017: #Giveaway oleh @mandewi dan @afifahtamher

2018 Reading Goals